Home / Ekonomi & Bisnis / Indocement Menaikan Harga Semen sekitar Rp 500 – Rp 1.000 Per Sak

Indocement Menaikan Harga Semen sekitar Rp 500 – Rp 1.000 Per Sak

Jakarta, Regional.id – Dalam acara Buka Puasa Bersama dengan Media di Jakarta, Senin (4/6/2018), Emiten semen, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memaparkan soal peliknya kondisi industri semen saat ini. INTP memandang jika tahun ini masih akan menjadi tahun yang sulit bagi perusahaan produsen semen di Tanah Air. Pasalnya, hingga saat ini industri semen domestik masih mengalami kelebihan pasokan (over supply).

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya, mengatakan, pihaknya akan menaikan harga semen sekitar 1-3 persen atau sekitar Rp 500 – Rp 1.000 per sak menyusul meningkatnya biaya produksi. “Biaya produksi naik 11 persen di kuartal I-2018 dibandingkan kuartal I-2017,” kata Christian

Kenaikan harga jual tersebut karena karena margin perseroan semakin  tergerus akibat meningkatnya harga batu bara dan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, penggunaan  bahan bakar mencakup sekitar 40 persen dari biaya produksi. Selain itu, hampir separuh biaya produksi Indocement menggunakan dolar AS karena sebagian besar bahan baku masih diimpor seperti gipsum dan bahan lainnya

Apalagi, kenaikan ini menyusul dengan beban operasi perseroan yang terus meningkat di tengah meningkatnya volume produksi semen dibandingkan dengan permintaan (demand) yang ada.

“Kami  sudah naikkan harga di beberapa tempat, dan setelah Lebaran kemungkinan kita akan naikkan harga kembali,” ujar Christian.

Sejauh ini, kenaikan harga hanya di beberapa kota Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sementara untuk Jawa Barat dan DKI Jakarta, tidak terjadi kenaikan karena ketatnya persaingan.

Dia mengatakan, jika pasar masih menyerap kenaikan harga tersebut, maka akan dilanjutkan. Namun jika tidak, perseroan akan bertahan di harga sekarang. Dampaknya, perseoran akan memperkuat penjualan di sekitar pabrik perseroan yakni di Jabodetabek, Cirebon dan Kota Baru (Kalsel). “Jika tidak, kita akan tertekan beban biaya transportasi dan logistik,” kata dia.

Pada tahun ini, Indocement menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1,4 triliun. Dananya sebagian besar untuk terminal semen di Palembang dan Lampung. Pada Maret 2018, Indocement sudah mengoperasikan terminal semen di Palembang. Terminal ini memiliki dua semen silo terpasang dan pabrik pengantongan semen. Dengan fasilitas tersebut, INTP dapat melayani pasar hingga 500.000 ton semen per tahun. Adapun di kuartal III-2018, Indocement diharapkan akan mengoperasikan terminal semen di Lampung. Ada tiga semen silo baja dengan total kapasitas 12.000 ton. “Sumber belanja modal dari kas internal,” kata Christian.

Saat ini kapasitas produksi Indocement sebesar 24,5 juta ton. Perinciannya, sebesar 2,4 juta ton di pabrik Tarjun, Kota Baru, sebesar 4,2 juta ton di pabrik Palimanan, Cirebon dan sisanya di parik Citeureup, Bogor. “Market share kita stabil 26 persen stabil, itu cukup baik,” kata dia.

Sementara hingga kuartal I-2018, total konsumsi semen domestik lndonesia naik 6,6 persen dibandingkan tahun lalu. Adapun volume penjualan semen domestik Indocement tumbuh sebesar 9,63 persen dan pangsa pasar perseroan tumbuh menjadi 26,4 persen di kuartal pertama 2018 dibandingkan kuartal pertama 2017 yaitu 25,6 persen.

Christian Kartawijaya optimistis, produksi dan penjualan semen perseroan bisa tumbuh 6 persen di tahun 2018. Sebagai catatan, tahun 2017 lalu Indocement mencatat pendapatan Rp 14,43 triliun dengan volume penjualan semen sebanyak 17,90 juta ton. (ciu)

About admin

Check Also

Wisuda Ketiga ESQ Business School, Mantapkan Langkah Sebagai Sekolah Bisnis Berbasis Karakter Pertama di Indonesia

Jakarta, regional.id-Berbagai krisis multidmensi dewasa ini karena tidak menjadikan pendidikan karakter yang menggabungkan tiga kercerdasan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *