Home / Ekonomi & Bisnis / Indonesia Butuh Lebih Banyak Ahli Keuangan Syariah Tersertifikasi
Suasana Peluncuran IFQ CIMA di Hotel Ayana, Midplaza, Jakarta, kemarin (17/9).

Indonesia Butuh Lebih Banyak Ahli Keuangan Syariah Tersertifikasi

The Chartered Institute of Management Accountants (CIMA) meluncurkan program sertifikasi ahli keuangan Syariah, Islamic Finance Qualification(IFQ) di Indonesia. Peluncuran ini dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan industri keuangan Syariah dan memanfaatkan pasar Indonesia yang merupakan negara Muslim terpadat di dunia. “Perkiraan menunjukkan sector keuangan Syariah hanya menyumbang sekitar 5% dari total layanan keuangan negara, meskipun situasinya secara bertahap berubah,” ujar DwiPutra Widiyanto Country Manager CIMA Indonesia.

Suasana Peluncuran IFQ CIMA di Hotel Ayana, Midplaza, Jakarta, kemarin (17/9).

DwiPutra lebih lanjut memaparkan, LSP Islamic Finance 2018 menyatakan, dari sekian lembaga sertifikasi profesional keuangan Syariah di Indonesia yang ada, jumlah lulusan ahli bersertifikat keuangan Syariah hanya 231 orang, sebuah jumlah yang dianggap kurang memadai untuk ukuran pasar Indonesia. “Karena itu CIMA sebagai badan akuntan manajemen profesional terkemuka dan terbesar di dunia memperkenalkan Diploma Keuangan Syariah yang terdiri dari empat sertifikat individu – Sertifikat Hukum Komersial Islam, Sertifikat Perbankan Syariah, Sertifikat Takaful di Pasar Modal Syariah dan Instrumen dan Sertifikat Akuntansi untuk Lembaga Keuangan Islam,” tutur DwiPutra di kesempatan serupa.

Country Manager CIMA DwiPutra Widiyanto tengah memberikan pemaparan terkait IFQ CIMA(17/9).

Peluncuran IFQ CIMA dilakukan oleh Venkkat Ramanan FCMA, CGMA, Wakil Presiden Regional – Asia Pasifik dan DwiPutra Widiyanto, Country Manager Indonesia, keduanya dari Association of International Certified Professional Accountants (ICPA).

Direktur Pendidikan dan Riset Keuangan Syariah, Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Sutan Emir Hidayat memaparkan, Indonesia memerlukan banyak ahli keuangan Syariah yang tersertifikasi agar dapat memacu perkembangan ekonomi Syariah di Indonesia. “Dari total 3 juta lulusan ekonomi Syariah setiap tahunnya di Indonesia, 54 ribu terserap pasar, namun hanya 231 profesional yang tersertifikasi keuangan Syariah,” ujar Emir dalam kesempatan serupa.

Keterbatasan jumlah professional keuangan Syariah yang tersertifikasi menurut Emir membuat perkembangan ekonomi Syariah di Indonesia menjadi tidak secepat yang diharapkan. “Kebanyakan yang terjadi adalah professional perbankan konvensional yang dipindahkan ke perbankan Syariah. Namun terdapat professional yang tidak memiliki keahlian keuangan Syariah yang tersertifikasi, hal ini yang membuat, mohon maaf, perkembangan keuangan Syariah di Indonesia nampaknya tidak maksimal,” jelasnya.

Karena itu dirinya menyambut baik peluncuran IFQ CIMA. “Tidak hanya CIMA yang sertifikasi keuangan Syariah internasional, namun kami juga mendukung semua Lembaga Sertifikasi Profesi dalam negeri dan internasional yang mengelola sertifikasi keuangan Syariah,” papar Emir.

Pemerintah Indonesia sendiri telah meluncurkan Masterplan Ekonomi Islam Indonesia (MEKSI) 2019-2024 dalam mengembangkan ekonomi Islam di Indonesia untuk berkontribusi pada kesejahteraan rakyat Indonesia pada awal 2019.

Masterplan tersebut mencakup peluang seperti munculnya kampanye Gaya Hidup Halal, peran aktif pemerintah dalam mendukung pengembangan ekonomi Syariah, tingginya jumlah lembaga pendidikan berbasis Islam dan perkembangan teknologi yang cepat membuktikan bahwa Ekonomi Islam di Indonesia akan terus meningkat secara eksponensial.

DwiPutra lebih lanjut menguraikan, kualifikasi online sangat berharga bagi pendatang baru dan profesional yang beroperasi di berbagai industri yang dirancang untuk memberikan dua keunggulan pasar – pengakuan profesional atas kualifikasi internasional CIMA dan keahlian yang dapat dibuktikan dalam dunia keuangan Islam yang kompleks dan berkembang pesat. “Terdapat sejumlah keunggulan dari IFQ CIMA. Pertama fleksibilitas tanpa tanggal kadaluarsa untuk sertifikatnya dan tidak diperlukan rangkaian sertifikasi, kedua pembelajarannya tersedia online sehingga memungkinkan dari manapun di Indonesia untuk belajar selama ada koneksi internet, ketiga seluruh studi menawarkan kesempatan mengikuti ujian tanpa batasan jumlah selama setahun, keempat kesempatan bergabung di komunitas CIMA yang sangat berharga, kelima gelar yang diakui secara internasional. Keunggulan ini yang menjadi kelebihan IFQ CIMA,” ujar DwiPutra.

Adapun dalam rangkaian peluncuran IFQ CIMA sekaligus digelar Konferensi Islam Internasional CIMA pertama dengan tema ‘Memperkuat Pengembangan Sumber Daya Manusia Melalui Keuangan Syariah’ yang dihadiri oleh 100 tamu mahasiswa dan dosen, konsultan pelatihan, lembaga sertifikasi profesional dan praktisi keuangan Islam. “Konferensi ini mengeksplorasi kebutuhan standar kualifikasi modal manusia keuangan Syariah dalam lanskap internasional, memperoleh tinjauan tentang kebutuhan kompetensi sumber daya manusia di sektor keuangan Islam di Indonesia dan memperoleh tinjauan standar kualifikasi profesional di sektor keuangan Syariah,” jelas DwiPutra.

 

Eddy Dwinanto Iskandar

About admin

Check Also

Digitalisasi Pengelolaan SDM Dulang Efisiensi Bagi BTN Rp150 Miliar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *