Home / Ekonomi & Bisnis / STP Trisakti Asah Pengetahuan Mahasiswa dengan Trisakti Seminar Week
Suasana Trisakti Seminar Week di STP Trisakti.

STP Trisakti Asah Pengetahuan Mahasiswa dengan Trisakti Seminar Week

Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti sebagai insititusi pendidikan pariwisata terkemuka di Indonesia senantiasa terus mengasah dan meningkatkan pengetahuan serta keahlian para mahasiswanya. Terbaru, kampus yang berlokasi di Jalan IKPN Bintaro, Bintaro, Jakarta Selatan itu menggelar Trisakti Seminar Week yang digelar dari tanggal 14-18 Oktober 2019 di kampusnya. Berbagai pembicara dari level eksekutif papan atas di perusahaan hospitaliti terkemuka di Indonesia, akademisi dari kampus di dalam dan luar negeri serta entrepreneur teruji di bidangnya tampil dalam seminar yang ditujukan untuk mahasiswa STP Trisakti tersebut.

Agus Riyadi, Kepala Dept. Perhotelan STP Trisakti

Para pembicaranya antara lain Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor Profesor Purwayitno Hariyadi, COO Mesa Hotels & Resorts Andyani Noeriman, Vice President Strategic Planning Burapha University Thailand Sakchai Setarnawat, President Director Indonesia International Expo Ryan Adrian, General Manager Tauzia Hotel Management Hengky P. Tambayong, Kepala Unit Penjaminan Mutu Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung Ni Gusti Made Kerti Utami, Direktur PT Hotel Property International (Swiss-Bellhotel Bogor) Braja Eka Sukma, Founder dan CEO AR Hospitality Ari Respati dan masih banyak lagi. “Kurang lebih terdapat 15 pembicara yang mengisi Seminar Week STP Trisakti ini,” ujar Agus Riyadi, Kepala Departemen Perhotelan STP Trisakti ketika ditemui Regional.id di sela-sela acara Seminar Week di kampus STP Trisakti, kemarin (17/10).

Agus lebih lanjut memaparkan, Seminar Week ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa STP Trisakti. “Karena itu para pembicara pun dipilih dari kalangan para ahli terkemuka di bidangnya. Tujuannya tak lain agar mahasiswa STP Trisakti selalu terupdate dengan pengetahuan dan praktik terbaik di bidangnya yang ada di industry pariwisata baik dalam maupun luar negeri,” jelas Agus.

Seminar Week sendiri diselenggarakan STP Trisakti di setiap semester ganjil menjelang ujian tengah semester. Dalam seminar ini, selain mendapatkan pengetahuan mutakhir, para mahasiswa STP Trisakti pun mendapatkan sertifikat yang akan digunakan sebagai prasyarat mengikuti sidang kelulusan kelak. “ Jadi untuk bisa ikut sidang kelulusan ada syarat jumlah sertifikat yang harus didapatkan. Nah melalui seminar ini mahasiswa akan mendapatkan sertifikat. Kalau ternyata nanti jumlahnya kurang karena mahasiswa kurang banyak menggikuti seminar maka dia harus mengikuti seminar di luar kampus,” jelas Agus.

Adapun pada hari Kamis kemarin, salah satu tema dalam Seminar Week yakni Seminar Keamanan Pangan dan Bumbu Umami sebagai Bahan Tambahan Pangan (BTP) dalam Industri Horeka yang dipresentasikan oleh Purwayitno Hariyadi, Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Pemaparan Purwayitno sendiri sangat menarik. Pasalnya Profesor IPB tersebut membongkar aneka mitos di sekitar zat kontroversial, monosodium glutamate (MSG).

Suasana Trisakti Seminar Week di STP Trisakti.

Memang, sejak lama beredar kabar kurang sedap bahwa zat MSG yang berfungsi untuk menyedapkan makanan memiliki banyak efek buruk untuk kesehatan. Namun  berbagai kabar tersebut ternyata tak dapat dibuktikan kebenarannya. Purwayitno menyebutkan, kabar buruk MSG dipicu dari sebuah surat pembaca di jurnal ilmiah New England Journal of Medicine di tahun 1968. “Jadi itu surat pembaca dari seorang dokter yang menyebut pasiennya mengalami berbagai gejala usai makan di restoran Chinese. Itu sebabnya disebut Chinese Restaurant Syndrome. Cuma masalahnya, tidak ada penjelasan lengkap makan seberapa banyak, apa saja yang dimakan selain itu, di restoran mana, apa aktivitas lainnya, dan apakah gejalanya berulang. Jadi bukan penelitian ilmiah. Hanya surat pembaca. Tapi kabar burungnya sudah terlanjur beredar kemana-mana bahwa MSG menyebabkan Chinese Restaurant Syndrome,” ujar Purwayitno  di hadapan 275 mahasiswa yang memadati ruang Auditorium STP Trisakti.

Bahkan, mitos keburukan MSG terus berlanjut puluhan tahun kemudian meskipun berbagai penelitian ilmiah di berbagai negara maju justru tidak menemukan adanya dampak buruk MSG  terhadap kesehatan manusia. “ Dan tidak ada negara di dunia yang menyatakan MSG tidak aman,” tegas Purwayitno lagi.

Purwayitno Hariyadi tengah mempresentasikan materinya di STP Trisakti (17/10). (Eddy-Regional.id)

Purwayitno turut memaparkan, sensasi rasa umami, atau yang di Indonesia dikenal dengan rasa gurih, yang ditimbulkan MSG sebenarnya juga terdapat dalam berbagai bahan makanan alami, seperti jamur, keju, daging, tomat dan juga makanan tradisional Indonesia seperti tempe, terasi dan tauco. “Sehingga kalau pengguna tidak mau menambahkan MSG pabrikan, bisa saja menambahkan berbagai bahan makanan alami seperti tempe, terasi atau tauco yang otomatis akan menimbulkan rasa umami,” jelas Purwayitno.

Penjelasan ilmiah mengenai kontroversi MSG, khususnya ke kalangan mahasiswa, dirasa Purwayitno sangat penting. Sebabnya, kalangan mahasiswa, terlebih mahasiswa STP Trisakti yang akan berkecimpung di bidang pariwisata yang bersentuhan dengan kuliner, merupakan ujung tombak perubahan. “Jadi mahasiswa harus dilatih rasa kritisnya sejak awal. Kalau membaca biasakan kritis cek sumbernya, asal muasalnya dan sebagainya,” jelas Purwayitno.

Mahasiswa STP Trisakti yang sebagian akan bergelut dengan pangan pun harus memahami tentang kontroversi MSG. Hal ini agar mereka bisa menjelaskan dan menggunakan MSG baik buatan pabrik maupun yang bersumber dari bahan alami dengan jelas dan dalam takaran yang tepat. “Sebuah penelitian ilmiah menyebutkan bahwa penggunaan MSG dalam takaran yang tepat bisa mengurangi penggunaan garam. Karena rasanya sudah enak jadi tidak perlu lagi ditambah banyak garam, atau sodium. Sodium sendiri dikenal sebagai salah satu bahan yang meningkatkan risiko penyakit jantung. Jadi penggunaan MSG dalam takaran yang tepat justru baik,” ujar Purwayitno.

Dirinya berharap melalui seminar ini maka mahasisa STP Trisakti bisa mengembangkan lebih jauh rasa umami dalam makanan yang akan diolahnya, baik menggunakan bahan MSG dari pabrik atau dari sumber alami yang banyak terdapat dalam khasanah kuliner tradisional Indonesia. “Jadi mahasiswa STP Trisakti sebagai calon the future leader harus bisa membuka dan mengembangkan sikap kritis, kedua meningkatkan daya saing bangsa berkaitan di bidang pangan, ketiga mengeksplorasi kekayaan bangsa terkait dengan rasa umami ini,” harap Purwayitno.

Eddy Dwinanto Iskandar

@bungiskandar

About admin

Check Also

Pacu Kinerja di Wilayah Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB, Bank BTN Relokasi Kantor Wilayah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *