Home / Uncategorized / STP Trisakti Buka S2 Ekoturisme, Demi Wujudkan Pariwisata Yang Ramah Penduduk Lokal
Suasana Diskusi tim INTEM di STP Trisakti (27/11). (Regional.id/Eddy Dwinanto Iskandar)

STP Trisakti Buka S2 Ekoturisme, Demi Wujudkan Pariwisata Yang Ramah Penduduk Lokal

Ketika membicarakan sector pariwisata, kerap kali berbagai pihak terbuai dengan kebaikan industri yang digadang menjadi solusi yang sangat bersahabat untuk meningkatkan perekonomian daerah dibandingkan industri lainnya, seperti industri pertambangan sebagai contoh. Meski demikian, industrialisasi pariwisata rupanya membawa persoalan yang tak bisa dipandang remeh. Eksploitasi pariwasata yang berlebihan kerap kali tidak mengindahkan daya dukung sumber daya setempat dalam menghadapi lonjakan industri tersebut. Bahkan yang lebih mengenaskan ditemui di sejumlah tempat penduduk setempat hanya bisa menyaksikan dengan nanar potensi pariwisata di daerahnya di eksploitasi habis oleh para pemodal kakap dan hanya menyisakan remah-remah tak bermakna bagi masyarakat sekitar.

Suasana Diskusi tim INTEM di STP Trisakti (27/11). (Regional.id/Eddy Dwinanto Iskandar)

Untuk itu diperlukan sudut pandang baru yang menjadikan penduduk setempat sebagai ujung tombak pengelolaan pariwisata di masing-masing daerahnya. Solusi pariwisata yang ramah terhadap penduduk setempat, serta terhadap lingkungan hidup tentunya, coba dihadirkan oleh Program Integrated Ecotourism Management in Indonesia (INTEM).

Program INTEM sendiri diprakarsai oleh Prof. L. Jan Slikkerveer dari Leiden University dan Prof A. Agung Gde Agung dr STP Trisakti, bersama anggota konsorsium lainnya seperti, Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Universitas Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Martha Tilaar Foundation dan Indonesian Heritage Society. Selain Leiden University yang berlokasi di Belanda, anggota konsorsium lain dari luar negeri mencakup Meditteranean Agronomic Institute of Chania, Crete, Yunani dan ASTEK School of Tourism, serta Kementerian Pariwisata Yunani.

Seperti dipaparkan oleh Project Manager of the INTEM Project, Professor L. Jan Slikkerveer dari Leiden University Belanda yang sekaligus merupakan penggerak program Leiden Ethnosystems & Development Programme (LEAD). Jan memaparkan, latar belakang munculnya program INTEM adalah adanya paradigma baru dalam pariwisata di Indonesia. “Bertahun lalu kita lihat paradigm baru dalam turisme. Pemerintah Indonesia berupaya melindungi sumber daya alam Indonesia dengan berfokus pada ekoturisme. Tapi masalahnya, dimensi kebudayaan hilang. Dengan kata lain mereka hanya lihat keragaman alami tapi bukan  keragaman budaya,” ujar Jan kepada Regional.id di sela-sela kunjungannya ke STP Trisakti (27/11).

Jan memaparkan, sector pariwisata Indonesia tahun ini akan menarik lebih dari 20 juta wisatawan mancanegara ke Nusantara. Terutama, mereka akan datang menyerbu daerah primadona pariwisata seperti Borobudur, Bali, Danau Toba dan sebagainya. Memang, hasilnya timbul keramaian. Namun, masalahnya, masyarakat setempat menurut Jan tidak mendapat kontribusi langsung yang berarti. “Nah, melalui program INTEM, kami mendorong penduduk setempat untuk mendapat keuntungan menjual misalnya dengan memproduksi dan menjual langsung produk kerajinan lokalnya. Jadi program ini kombinasi perkembangan ekonomi penduduk local dan perlindungan atas mass tourism. Itu ide kami yang mendorong lahirnya integrated ecoturism management, INTEM,” jelas Jan.

Lebih lanjut Jan memaparkan, program INTEM mengintegrasikan antara local dan mass tourisme, antara etno tourism dan ecotourism, community based tourism dan sustainable tourism. Berbagai kombinasi disiplin ilmu tersebut menurut Jan sangat diperlukan untuk menemukan racikan strategi pariwisata yang tepat yang akan menempatkan penduduk setempat kembali sebagai tuan rumah pariwisata di daerahnya masing-masing. “Jadi kami membawa banyak disiplin ilmu untuk menemukan solusi terbaik dalam perspektif penduduk lokal. Intinya, yang nomor satu harus diutamakan adalah peran penduduk local, jadi local empowerment,” papar Jan.

Jan pun lebih gembira lagi mengetahui bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menyambut gembira inisiatif INTEM. “Saya gembira menteri pendidikan mendukung ide ini tidak lagi dari atas tapi dari bawah. Kami menyebutnya applied etnoscience itu sains baru etnologi jadi bagus. Saya gembira Uni Eropa mendukung kami melakukan ini. Anda punya banyak ethnic group, kultural dan warisan sejarah, yang indah, itu harus di conserve dan di saat yang sama aset berharga tersebut dapat digunakan untuk membantu pengurangan kemiskinan di kalangan penduduk lokal,” urai Jan.

Adapun realisasi dari program INTEM yakni dengan akan dibukanya konsentrasi S2 pascasarjana ekoturisme di kampus mitra INTEM seperti STP Trisakti, Unpad dan UPI pada September 2020. Adapun kurikulumnya dari Universitas Leiden dan akan diimpelentasikan di ketiga universitas mitra INTEM tersebut.   “Jadi kami akan melatih tutor dan mahasiswa menjadi integrated ecotourism management manager agar mengubah perilaku tidak semata memberi monopoli pariwisata kepada perusahaan besar tapi juga memberi orang local pengetahuan dan inisiatif berdasarkan pengalaman mereka untuk menjadi tuan rumah di daerahnya. Dan Uni Eropa membantu kami menyiapkan course tersebut. Itulah pendekatan yang akan kami tempuh,” tegas Jan.

Eddy Dwinanto Iskandar

@bungiskandar

 

About admin

Check Also

Oni Febriarto Rahardjo Ditunjuk Untuk Menjalankan Tugas Direktur Utama BTN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *