Home / Uncategorized / Tjuk Sukardiman, Inspirasi Dedikasi dan Inovasi Tiada Henti
Tjuk Sukardiman, Rektor ITL Trisakti (istimewa)

Tjuk Sukardiman, Inspirasi Dedikasi dan Inovasi Tiada Henti

Bagi Tjuk Sukardiman, Rektor Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, dedikasi dan inovasi adalah harga mutlak dalam menjalani karir, bahkan sejak awal dirinya bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Direktorat Perhubungan Laut, Jakarta. Dengan berpegang kepada dua prinsip utama tersebut dirinya sukses mengesankan Presiden Soeharto dan karirnya pun terus melesat ke puncak karir sebagai Dirjen Perhubungan Laut. Berikut kisah anak guru tersebut dalam melahirkan berbagai inovasi yang pada akhirnya sukses mengantarkannya ke puncak karir.

Tjuk Sukardiman, Rektor ITL Trisakti (istimewa)

Bagi Tjuk Sukardiman, bekerja harus dengan totalitas dan inovasi tiada henti. Karena hanya dengan menjalani karir sepenuh hati maka berbagai terobosan akan berhasil ditorehkan. Hasilnya berbagai ide yang diusungnya pun terbukti mampu membawa kemaslahatan besar, tak hanya bagi instansinya namun bahkan untuk Indonesia. Di antaranya ketika dirinya  berupaya menyelamatkan alur pelayaran di sejumlah sungai yang mengalami pendangkalan di berbagai daerah pedalaman di Indonesia. Padahal, alur sungai merupakan urat nadi perekonomian di berbagai daerah pedalaman. “Ketika saya menjadi staf di Perhubungan Laut (Hubla). Saat itu Hubla kesulitan dana untuk mengeruk alur pelayaran di sungai. Saya mempunyai ide agar iuran hasil tambang (IHT) dipakai sekian persen untuk mengeruk sungai di muara sungai yang menghambat kapal masuk ke pelabuhan,” urai Tjuk kepada Regional.id.

Tanpa ragu kepada atasannya Tjuk menyodorkan urgensi pengerukan alur-alur sungai. Dijelaskan, kapal-kapal masuk ke dalam alur sungai hingga puluhan dan ratusan kilometer jauhnya di Banjarmasin, Jambi, Pontianak dan Mahakam. Maka dampak kerugian ekonominya sangat besar jika kapal-kapal pengangkut tidak bisa masuk ke pedalaman akibat pendangkalan alur sungai. “Contoh di Palembang, kapal tanker bergerak dengan kedalaman 7 meter. Sementara kedalaman alurnya hanya 3 meter. Akhirnya minyaknya diangkut pakai tongkang. Kalau sungai-sungai di Indonesia seperti ini semua, berapa biaya yang dibutuhkan. Siapa yang harus bayar?” tanya Tjuk tanpa berharap jawab.

Berangkat dari kondisi itu dirinya lantas membuatkan skema yang kemudian oleh pimpinannya Dirjen Hubla dipaparkan kepada ke Presiden Soeharto langsung di Bina Graha, Jakarta. Tjuk masih ingat saat itu dirinya membuat tiga denah peta alur sungai di Indonesia. Dari situ terlihat 65% merah sungai sangat rawan dilalui kapal. “Dalam arti kalau dilewati kapal pasti kandas,”jelasnya.

Skema yang dirancang Tjuk pun disertai solusi detil cara membiayai pengerukan, yakni dengan mengambil dari pos iuran hasil hutan (IHT). Ternyata presentasi itu sangat mengesankan Soeharto. Belum selesai presentasi, Presiden Soeharto langsung menelpon Sekretaris Negara, Soedharmono. “Mas Dharmono bisa datang ke Bina Graha untuk mendengarkan presentase dari Dirhubla tentang Bahaya Keselamatan Pelayaran di Indonesia,” ujar Tjuk menirukan ucapan Soeharto saat menghubungi Soedharmono.

Hanya dalam hitungan menit Soedharmono tiba di Bina Graha bersama Moerdiono yang kala itu menjabat Sekretaris Kabinet. Kepada Soedharmono, Presiden Soeharto menjelaskan pemaparan Dirjen Perhubungan Laut. “Kalau kondisi itu tidak ditolong dengan dana maka akan terjadi stagnan. Tidak ada kapal tanker masuk ke alur sungai. Jadi tolonglah diatur satu Inpres yang memberikan sekian persen dari dana IHT untuk menyelamatkan pelayaran di Indonesia,” Tjuk menuturkan kembali perintah Soeharto kepada para pembantunya itu.

Tak menunggu lama akhirnya keluarlah Inpres nomor 37 tahun 1985 tentang Iuran Hasil Hutan Untuk Keselamatan Pelayaran di Indonesia. Dalam Inpres tersebut setiap IHT dipungut biaya sebesar 3 persen. Hasilnya mencapai ratusan miliar. Dana tersebut bisa dipakai membeli kapal tongkang besar, kapal Roro, beli tug boat untuk keruk di tengah laut, serta membangun kapal patroli. Semua itu berkat ide cemerlang Tjuk. Adapun sebagai penghargaan atas inovasinya, Tjuk dikirim untuk belajar ke Jerman selama dua tahun.

Tjuk Sukardiman tidak saja cerdas. Namun dirinya juga penuh dengan kepedulian kepada sejawatnya. “Sejak dulu saya memegang prinsip fair, share and care. Saya selalu berusaha bersikap adil, membagikan yang ada dan juga perhatian kepada rekan kerja lainnya,” urainya. Karena itu ketika dirinya menjabat sebagai pimpinan proyek (pimpro) pengerukan alur sungai, seluruh pegawai mendapatkan dapat premi keruk yakni premi yang dihasilkan dari pengerukan pengerukan alur sungai.

Adapun inovasi lainnya yang dicetuskannya adalah ketika meningkatkan produktivitas dalam pengukuran kedalaman laut. Sebelumnya untuk mengukur kedalaman laut menggunakan alat konvensional yang hanya bisa mengukur 100 meter per hari. Tjuk muda berpikir pasti ada alat dan cara untuk meningkatkan hasilnya berkali lipat. Karena itu ketika ada pameran peralatan teknologi anyar di Singapura dirinya mengajukan izin mengikuti pameran tersebut. Benar saja. Di Singapura dirinya mendapati alat yang mampu meningkatkan produktivitas pengukuran kedalaman laut. Dari sebelumnya 100 meter menjadi 1 kilometer per hari.

Atas keberhasilannya itu lagi-lagi ganjaran positif diperolehnya, yakni jabatan Kepala Survei di Bagian Litbang Hubla resmi disandangnya. Inovasi lain yang dicetuskannya pun tak melulu di bidang keteknikan. Namun lintas divisi, hingga ke bagian keuangan. “Saya diminta mengelola keuangan ketika itu. Bagi saya, kunci neraca keuangan kan sederhana saja, keseimbangan pos kiri dan kanan. Itu saja yang saya pegang ketika menangani pembukuan akhir tahun. Saya minta para tenaga ahli membuat list project ke berbagai rekanan hingga posisi keuangan kita kembali seimbang. Karena peristiwa itu saya dijuluki insinyur akuntansi, hahaha,” ungkap Tjuk diiringi tawa berderai.

Inovasi di bidang keuangan itu lagi-lagi berbuah manis, yakni diangkat menjadi Kepala Biro Keuangan. Berbagai prestasi pun terus ditorehkannya tahun demi tahun hingga akhirnya mencapai puncak karir di Hubla sebagai Dirjen di usia 52 tahun. “Saya perlu waktu 30 tahun  menjadi Dirjen. Karena itu saya bertekad, tak perlu 30 tahun untuk memiliki keilmuan seorang Dirjen. Tapi di ITL Trisakti, hanya butuh kurang dari 5 tahun agar mahasiswa dapat memiliki keilmuan layaknya seorang Dirjen,” tegas Tjuk memaparkan visinya di kampus yang dipimpinnya itu.

Eddy Dwinanto Iskandar

About admin

Check Also

Hirwandi Gafar Lulus Fit & Proper Test OJK

REGIONAL.ID, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menyetujui pengangkatan Hirwandi Gafar secara efektif selaku ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *