Home / Covid-19 / Pemimpin Harus Usung Sikap Ini di Masa Krisis
CEO Daya Qarsa Apung Sumengkar tengah memberikan pemaparan (Ist).

Pemimpin Harus Usung Sikap Ini di Masa Krisis

Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini adalah sebuah krisis yang tak pernah disangka-sangka oleh mayoritas pemimpin bisnis di dunia. Meski demikian, siap tidak siap, tidak tersisa pilihan bagi para pemimpin bisnis selain menavigasi bisnis dengan sangat hati-hati melewati krisis multidimensi ini. CEO Daya Qarsa Consultant, Apung Sumengkar memaparkan, dengan kondisi krisis yang sangat kompleks saat ini membuat banyak pebisnis yang kehilangan fokus dan bahkan melakukan tindakan gegabah dalam menahkodai kapalnya. Beberapa sikap buruk pemimpin yang biasanya muncul di era krisis seperti sekarang adalah sikap panik. “Kepanikan ini menyebabkan pemimpin bisnis mengambil keputusan hanya berdasarkan jangka pendek tanpa mengindahkan kepentingan jangka panjang. Contohnya, langsung melakukan PHK karena krisis Covid-19 tanpa menganalisa langkah – langkah strategis lainnya yang sebenarnya bisa membantu perusahaan, seperti menghemat biaya operasional, menjual aset, mempercepat tenor pembayaran dari konsumen, dan sebagainya,” urai pemimpin perusahaan konsultan yang perusahaannya berfokus pada transformasi bisnis holistik tersebut.

CEO Daya Qarsa Apung Sumengkar tengah memberikan pemaparan (Ist).

Karena itu, mengingat pentingnya unsur kepemimpinan dalam menavigasi sebuah bisnis agar selamat melalui krisis, Apung menyarankan para pemimpin untuk mengutamakan sikap 5C yaitu Calm, Confident, Clear, Care and Consistent.

Apung menerangkan, C yang pertama adalah calm, alias ketenangan. Sikap ini, wajib ditunjukkan seorang pemimpin ketika krisis menerpa. Inilah poin penting yang harus diperlihatkan seorang pemimpin di bawah tekanan seberat apapun. “Dengan bersikap tenang, seorang pemimpin akan dapat memberikan jaminan kepada seluruh anggota timnya, bahwa mereka memiliki sosok yang tepat untuk memandu mereka dalam era yang akan dipenuhi turbulensi tersebut,” papar Apung yang telah berkarier lebih dari 15 tahun di perusahaan-perusahaan konsultan global McKinsey, dan Deloitte, serta di berbagai perusahaan multinasional seperti PZ Cussons, Unilever, dan Toyota.

Selanjutnya, C yang kedua adalah confidence, atau keyakinan. Sikap ini harus diusung dalam setiap tindakan, ucapan dan keputusan seorang pemimpin. “Keyakinan ini harus diiringi dengan perumusan contingency plan alias rencana darurat yang terperinci sebagai panduan dalam kondisi mendesak.

Berikutnya adalah clarity atau kejelasan. Cara seorang pemimpin memancarkan kejelasan adalah dengan membagikan action plan yang spesifik, seraya menghindari segala hal yang normatif, umum dan berdasarkan asumsi demi menghilangkan keraguan dari para anggota organisasinya.

Lantas, C yang tak boleh dilupakan betapapun beratnya sebuah krisis adalah care, atau kepedulian. Bisnis adalah tentang mengelola manusia yang memiliki pikiran dan hati. Karena itu, tidak ada momen yang lebih mendesak bagi pemimpin untuk menunjukkan kepeduliannya dibandingkan masa-masa krisis. “Dengan kepedulian, seorang pemimpin bisnis akan dapat menjaga kestabilan emosi karyawan dan orang-orang di lingkungan sekitar perusahaan, sebuah faktor yang sangat diperlukan dalam melanjutkan bisnis di tengah kepungan ketidakpastian masa krisis,” urai Apung yang telah menangani klien dari Asia Tenggara, Jepang hingga Eropa itu.

Terakhir, namun yang tak kalah pentingnya dari keempat C pendahulunya adalah consistency. “Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki pendirian yang konsisten, yang akan menjadi mercusuar pemandu seluruh lapisan organisasi dalam bertindak, sekaligus menghapus keraguan mengenai arah tujuan perusahaan saat krisis maupun di masa mendatang,” tegas Apung.

Pun demikian, pemimpin adalah juga seorang manusia. Karena itu ketidaksempurnaan akan selalu melekat di sosoknya. Jika memang harus menetapkan prioritas, maka sikap tenang (calm) dan jelas (clarity) sebaiknya diprioritaskan dalam sikap kepemimpinan di masa krisis.
Meskipun seorang pemimpin awalnya tidak selalu memiliki semua elemen 5C yang kuat, namun seorang pemimpin yang baik biasanya juga seorang pembelajar (life-long learner). Sifat pembelajar biasanya dimulai dari adanya sikap peduli (care) terhadap lingkungan sekitar, tim sendiri, consumer, competitor atau industri yang didalami. “Oleh karena itu, saya menyarankan para pemimpin agar memiliki sikap kepedulian yang tinggi agar bisa selalu catch up dengan situasi terakhir di pasar,” jelas Apung.

Dengan melakukan sikap 5C ini, niscaya pebisnis akan dapat mengambil keputusan bisnis yang bijak, menenangkan pemangku kepentingan terkait, bisa mengeksekusi strategi bisnis dengan baik dan pada akhirnya akan bisa bertahan dan menang melewati badai krisis Covid-19.

Redaksi

About admin

Check Also

BTN: Stimulus Sektor Property Dukung Peningkatan PDB Indonesia

REGIONAL.ID, Jakarta-Menapaki tiga bulan terakhir menuju penghujung tahun 2020, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *