Home / CSR / Sukses BAP Mendulang Cuan dari Minyak Jelantah
Priski Setiawan di kantornya (Regional.id/bungiskandar).

Sukses BAP Mendulang Cuan dari Minyak Jelantah

Mungkin tidak ada yang menyangka, minyak jelantah, alias limbah minyak goreng kelapa sawit bisa menjadi bisnis bernilai miliaran rupiah. Tapi nyatanya, itulah sukses bisnis yang diraih oleh PT Berkat Anugerah Pertiwi (BAP) yang didirikan oleh keluarga Susanto. Dari kantor pusatnya di  Cimone, Tangerang, Provinsi Banten, BAP menyerap minyak jelantah yang dikumpulkan para pemasoknya di seantero Pulau Jawa untuk kemudian disaring, dicek laboratorium lantas diekspor ke Belanda, India dan Korea Selatan sebagai bahan baku biodiesel, bahan bakar ramah lingkungan yang tengah digalakkan di berbagai penjuru dunia.

Priski Setiawan di kantornya (Regional.id/bungiskandar).

Melongok ke belakang, BAP didirikan pada tahun 2019, sebagai bagian dari unit usaha kelompok usaha yang induknya telah berbisnis lebih dari dua dekade lamanya. Lantaran sudah memiliki bekal pengalaman dari induknya, bisnis BAP pun langsung tancap gas hingga meraih klien produsen biodiesel dari mancanegara. Adapun dalam sebulan tak kurang dari 300 ton minyak jelantah atau kurang lebih 240 ribu liter yang diekspor perusahaan yang memiliki 10 pegawai itu.

Trade and operational manager  BAP, Priski Setiawan (25 tahun) menyebutkan, kunci sukses usaha BAP adalah kedisiplinan dalam mengikuti kaidah aturan ISCC, (International  Sustainability and Carbon Certification). ISCC sendiri merupakan sistim sertifikasi bertaraf internasional pertama, yang diklaim dapat membuktikan sustainability dan traceability serta penghematan yang berasal dari efek gas rumah kaca, untuk segala jenis produksi biomass atau energi terbarukan generasi kedua. “Tanpa sertifikat ISCC, tidak mungkin pembeli internasional mau menerima produk kita,” ujar Priski ketika ditemui di kantor pusatnya.

Konsekuensi akuntabilitas yang dipatuhi BAP pun cukup panjang. BAP sebagai pemasok minyak jelantah untuk biodiesel harus men-declare dalam dokumen sumber setiap tetep minyak jelantahnya, lengkap dengan nama dan kontak pemasoknya. “Setahun sekali kita diaudit ISCC untuk dicek random kurang lebih 1% dari total supplier  kita,” ungkap Priski.

Total terdapat lebih dari 100 pemasok BAP se-indonesia yang berada di Pulau Jawa, Sumatera, Riau hingga Kalimantan. Anda pun mungkin pernah melihat pergerakan para pemasok BAP di media sosial dengan iklan, Siap Membayar Minyak Jelantah Rp 4.000 per liter. Nah itulah aktivitas beberapa pemasok BAP. “Untuk mengetahui itu pemasok resmi atau bukan mudah saja, tanyakan saja surat PO-nya (purchase order-red). Pasti ada surat PO kalau yang asli,” ungkap Priski.

Adapun pasokan minyak jelantah dari Pulau Jawa mengontribusi 60% dari total pasokan BAP. “Pemasok kami umumnya mendapat minyak jelantah dari rumah tangga, hotel, restoran, kantin sekolah, rumah sakit hingga rumah ibadah seperti masjid dan vihara,” terang Priski.

Adapun setelah menerima minyak dari pemasok, BAP akan menimbang, menyaring dan mencek di labnya untuk mengetahui kadar free fatty acid (FFA) dari minyaknya. Dengan kapasitas pemeriksaan hingga 1 ton minyak per hari, BAP berupaya memantau ketat kadar FFA yang ditolerir ISCC, yakni minimal 0,5% dan maksimal 2%.  “Inilah pentingnya kegunaan data PO  yang dipegang pemasok. PO itu berisi info sumber minyaknya. Karena jika minyaknya di luar batasan yang ditolerir, maka data itu akan bisa mengecek kembali keabsahan sumbernya ,” papar Priski.

Data PO itu juga yang akan disetorkan oleh BAP ke ISCC. “Dokumennya tebal, mas. Jelas dan lengkap isinya, setiap minyak lengkap informasinya dari restoran mana, rumah mana, daerah mana, dikumpulkan siapa, disetorkan kapan, hasil cek labnya. Semua data rigid dan valid karena harus disubmit ke ISCC. Tanpa  itu, minyak dari kita akan ditolak,” tegas Priski.

Ke depan BAP akan terus memperbesar kapasitas ekspornya. Targetnya, BAP hingga akhir tahun ini akan mengekspor seribu ton minyak jelantah saban bulan. Untuk mencapai target itu, sejumlah program sudah digelar BAP.  Antara lain menginisiasi program collecting dari tingkat RT dan rumah-rumah ibadah.

Bulan Maret kemarin sebenarnya program tersebut sudah dimulai. Tapi karena PSBB (pembatasan sosial berskala besar-red), langkah BAP tersendat. Hingga akhirnya BAP baru mulai bergerak lagi di Juni kemarin. “Yang sudah jalan rata-rata di daerah Tangerang karena dekat kantor kami. Antara lain di Tanjung Kait, Sewan-Neglasari, dan Perumahan Poris Indah,” urai Priski seraya menyebut per-RT rata-rata mampu menyetor hingga 30 jerigen atau 1 ton per bulan.

Rencana lain untuk mencapai target, yakni dengan membuka cabang di Dumai, Riau. “Tujuannya untuk meringankan biaya transportasi di kawasan Sumatera. Di sana ada pelabuhan internasional juga, jadi bisa langsung ekspor,” urai Priski yang merupakan alumnus Sekolah Tinggi Agama Buddha Dharma Widya, Tangerang.

Priski sendiri meyakini bisnis perusahaannya memiliki manfaat besar. Dengan pengumpulan minyak jelantah ini menurut Priski BAP mampu mengurangi pencemaran limbah minyak jelantah selaras dengan imbauan Kementerian Lingkungan Hidup. Bahkan lebih jauh bisa menambah penghasilan banyak orang. “Harapan kami akan lebih banyak yang bergabung dalam program pengumpulan minyak jelantah ini. Kami akan lebih gencar bergerak setelah masa new normal ini,” tegas Priski.

Eddy Dwinanto Iskandar

About admin

Check Also

Radana Finance Sukses Efisiensi Bisnis Senilai Ratusan Miliar Rupiah

PT Radana Bhaskara Finance Tbk  sebagai perusahaan pembiayaan terkemuka menggelar paparan publik (Public Expose) yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *